HUT ke-81 RI di Sampaga: Tiga Tahun Kolaborasi, Prestasi, dan Pengabdian untuk Masyarakat

MAMUJU | POROSRAKYATNEWS.ID – Detik-detik peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Desa Bunde, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, berlangsung khidmat dan penuh semangat nasionalisme pada Senin (17/8/2026).

​Camat Sampaga, Muhammad Yusuf, S.H., M.H., bertindak sebagai Inspektur Upacara. Dalam amanatnya—sebelum membacakan sambutan seragam Bupati Mamuju, ia menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan semata, melainkan harus diterjemahkan menjadi energi nyata untuk bekerja, membangun, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

​Mengangkat semangat perjuangan para pahlawan, Muhammad Yusuf menyampaikan pesan Bupati Mamuju, Dr. Hj. St. Sutina Suhardi. Jika generasi terdahulu berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka tanggung jawab generasi saat ini adalah melanjutkan perjuangan tersebut melalui pembangunan, pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan persatuan.

​Pesan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Bupati Mamuju pada Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kabupaten Mamuju.

​”Kemerdekaan memberikan kesempatan kepada kita untuk menentukan masa depan. Karena itu, pembangunan harus memastikan hadirnya keadilan, kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.”

Momentum kemerdekaan tahun ini sekaligus menjadi ruang refleksi atas perjalanan pembangunan di Kecamatan Sampaga selama tiga tahun terakhir. Berbagai capaian gemilang diraih bukan atas kerja pemerintah kecamatan semata, melainkan buah dari kolaborasi lintas sektor antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, perangkat daerah, Forkopimca, kader masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, dan seluruh warga Sampaga.

​Kepemimpinan Camat Sampaga dalam kurun waktu tiga tahun terakhir terbukti berhasil mendorong pola tata kelola pemerintahan yang menempatkan kolaborasi sebagai kekuatan utama. Beberapa prestasi membanggakan yang berhasil diukir di antaranya:

• ​Desa Tarailu: Dipercaya mewakili Provinsi Sulawesi Barat dalam program Desa Antikorupsi hingga ke tingkat nasional. Capaian ini menunjukkan bahwa pembangunan desa berjalan beriringan dengan transparansi dan budaya antikorupsi.

• ​Posyandu Asoka Desa Salubarakna: Berhasil melaju ke tingkat nasional setelah mewakili Provinsi Sulawesi Barat, membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat desa dapat menghasilkan prestasi nyata berkat sinergi yang kuat.

Bagi Muhammad Yusuf, setiap penghargaan dan prestasi bukanlah garis finis, melainkan pemicu untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik.

​”Prestasi bukan milik seorang camat. Prestasi adalah milik masyarakat, pemerintah desa, para kader, tokoh masyarakat, dan seluruh pihak yang mau bekerja bersama. Pemerintah kecamatan hanya menjadi bagian dari orkestrasi agar seluruh potensi itu dapat bergerak dalam satu tujuan,” ungkapnya.

​Muhammad Yusuf mengingatkan bahwa Sampaga memiliki modal sosial yang besar, yakni semangat gotong royong dan kebersamaan. Pemerintah tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kepala desa, Forkopimca, hingga pelaku usaha.

​”Ketika pemerintah bekerja sendiri, hasilnya akan terbatas. Tetapi ketika pemerintah dan masyarakat bergerak bersama, maka banyak hal yang sebelumnya terasa sulit dapat kita wujudkan,” ujarnya.

Di hadapan peserta upacara, ia menekankan bahwa bentuk perjuangan masa kini telah bergeser. Jika dahulu pahlawan berjuang mengusir penjajah, tantangan generasi saat ini adalah memastikan kemerdekaan menghadirkan keadilan sosial.

​”Perjuangan kita hari ini adalah melawan kemiskinan, kesenjangan, ketertinggalan, dan ketidakadilan.”

​Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan tidak diukur dari besarnya anggaran yang dibelanjakan, melainkan dari sejauh mana masyarakat merasakan langsung manfaat dari setiap program pemerintah.

Menutup amanatnya, Muhammad Yusuf mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan keberagaman suku, agama, dan budaya di Mamuju sebagai kekuatan sosial, bukan perpecahan.

​”Kita boleh berbeda pilihan, profesi, latar belakang, dan cara pandang. Tetapi ketika menyangkut masa depan Mamuju, kita harus berdiri dalam satu barisan: membangun daerah dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat.”

​Kemerdekaan harus diisi dengan kerja nyata, pelayanan tulus, pemerintahan yang bersih, serta inovasi yang berkelanjutan. Dari Sampaga, semangat itu terus dijaga: membangun dari desa, memberdayakan masyarakat, dan memperkuat kolaborasi.

Laporan: Bdm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini

Kategori List