MAMUJU | POROSRAKYATNEWS.ID – Tanah Manakarra, Pembolongang Manurung Makkarama, bukan sekadar titik koordinat geografis. Bagi para alumninya, Mamuju adalah ruang ingatan dan pengabdian yang tak lekang oleh waktu. Berangkat dari kesadaran kolektif tersebut, Muhammad Yusuf, S.H., M.H., seorang tokoh alumni HIPERMAJU, menegaskan pentingnya pelembagaan ikatan batin para perantau melalui pembentukan Ikatan Alumni Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Mamuju (IKA HIPERMAJU).
Dalam pandangannya, IKA HIPERMAJU bukan sekadar wadah nostalgia, melainkan sebuah manifestasi dari filosofi Mana’ di Siolai—amanat leluhur yang mengikat dalam satu darah dan satu rasa untuk membangun tanah kelahiran.
Tiga Pilar Strategis IKA HIPERMAJU
Yusuf merumuskan bahwa organisasi ini harus berdiri kokoh di atas tiga pilar utama untuk menjawab tantangan zaman:
1). Simpul Solidaritas: Menjadi ruang aman bagi alumni untuk berbagi peluang dan solusi. Salah satu gagasan konkretnya adalah pembentukan Dana Abadi Pembolongang sebagai simbol gotong royong modern.
2). Pusat Produksi Gagasan: Menjadi think tank strategis melalui Dewan Pakar lintas profesi yang memberikan kontribusi intelektual bagi pembangunan Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah, Pasangkayu, hingga Provinsi Sulawesi Barat.
3). Jembatan Kaderisasi: Menjaga estafet kepemimpinan dengan memberikan mentorship dan pendampingan karier bagi adik-adik mahasiswa yang masih berjuang di perantauan.
“Semboyan ‘Setto rasa, setto pappena’ding, mana’ di siolai’ bukan sekadar jargon emosional, melainkan fondasi etik bahwa setiap alumni memiliki tanggung jawab moral untuk saling menopang,” ujar Muhammad Yusuf.
Salah satu poin krusial yang ditekankan dalam rancangan AD/ART IKA HIPERMAJU adalah menjaga marwah organisasi. Yusuf menegaskan bahwa IKA HIPERMAJU harus menjadi mitra strategis pemerintah, bukan subordinat apalagi alat politik praktis.
Lebih lanjut, Yusuf mendorong agar struktur organisasi yang modern ini dihidupkan dengan program nyata. Selain Dana Abadi, ia mengusulkan adanya Digitalisasi Database Alumni, Platform Kolaborasi Bisnis, serta gerakan “Pulang Kampung Intelektual” (Brain Gain).
Gerakan ini bertujuan agar para alumni tidak hanya pulang secara emosional saat mudik, tetapi membawa kembali kapasitas intelektual dan jaringan nasional/global mereka untuk membangun daerah.
Menutup pemikirannya, Muhammad Yusuf mengingatkan bahwa sejauh apa pun seorang perantau melangkah, mereka tidak pernah benar-benar pergi. IKA HIPERMAJU adalah kendaraan pengabdian untuk mewujudkan cita-cita Tampo Makkarama.
”Kita sedang mengumpulkan bekal untuk pulang membangun kembali Mamuju yang Masannang Masagena, demi terwujudnya masyarakat Mandar di Sulawesi Barat yang maju dan sejahtera,” pungkasnya.
lp; Budiman
























