GOWA | POROSRAKYATNEWS.ID – Keberadaan bundaran di Kelurahan Samata, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, kini menjadi sorotan. Alih-alih berfungsi sebagai pengurai arus lalu lintas, infrastruktur tersebut justru ditutup dan dituding menjadi biang kerok kemacetan panjang, terutama pada jam-jam sibuk
Pantauan di lokasi pada Jumat (8/5) pagi, penumpukan kendaraan terlihat jelas dari arah jalan utama menuju pasar setempat. Hal ini disebabkan oleh penutupan sebagian akses bundaran, yang memaksa pengendara menempuh jarak lebih jauh untuk memutar arah.
Meski bundaran tersebut telah dilengkapi dengan marka jalan dan rambu yang memadai, aksesnya kini terhalang oleh deretan pembatas jalan plastik (water barrier).
”Sudah tiga bulan terakhir bundaran ini ditutup. Dampaknya, mobil dan motor harus memutar jauh, dan antrean kendaraan jadi mengular sampai ke depan sekolah,” keluh Rahman, salah seorang warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut
Menanggapi keluhan tersebut, Lurah Samata menjelaskan bahwa penutupan dilakukan atas dasar pertimbangan keselamatan. Menurutnya, lokasi tersebut sering menjadi titik kecelakaan akibat kurangnya pemahaman pengendara mengenai aturan prioritas di bundaran.
• Status Saat Ini: Penutupan bersifat sementara.
• Alasan Utama: Tingginya angka kecelakaan akibat pelanggaran lalu lintas.
• Langkah Lanjut: Menunggu hasil evaluasi teknis dari pihak berwenang
”Banyak pengendara yang belum paham aturan di bundaran. Daripada terus memakan korban, kami tutup sementara sembari menunggu evaluasi dari Dinas Perhubungan (Dishub),” ujar Lurah Samata
Dihubungi secara terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Gowa menyatakan pihaknya akan segera melakukan peninjauan lapangan untuk mencari solusi permanen.
”Jika keberadaan bundaran tersebut memang layak secara teknis namun penutupannya justru memicu kemacetan, tentu akan kami buka kembali. Namun, fokus utama kami adalah keselamatan, jadi diperlukan sosialisasi masif kepada pengguna jalan terlebih dahulu,” tegasnya.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Gowa tidak membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Keberadaan bundaran yang “mubazir” tersebut dianggap tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi warga, tetapi juga memicu potensi bahaya baru: banyak pengendara nekat melawan arus demi menghindari putaran yang terlalu jauh.
lp ; Bdm























